SHARE
Naik Haji tempo dulu pra koloneal

Tanyoe.com – Ada cerita menarik untuk di telusuri tentang keadaan orang Indonesia melakukan perjalanan naik haji ke baitullah sebelum masa koloneal. Jadi, sebelum koloneal berdatangan ke Indonesia, Ibadah Haji dilakukan secara parsial tanpa ada suatu administrasi yang mengatur baik dari perjalanan atau kepulangan jamaah dari Makkah.

Kemudian ketika memasuki awal masa koloneal, VoC sempat melarang keberangkatan jamaah haji dan begitu dengan jamaah yang ingin pulang dengan beragam alasan dari penjajah. Awal ceritanya adalah jauh sebelum koloneal menguasai nusantara secara penuh, keberhasilan bangsa Eropa dalam pelayaran tidak bisa di pisahkan dengan Vasco De Gama. Ketika Vasco De Gama mencapai Kalkuta setelah mereka melewati Tanjung Harapan di Afrika Selatan 1485 ini menjadi tahap awal bagi mereka mengenal Asia. Tak Lama kemudian kapal Eropa mencapai selat Malaka.

Berbagai Bangsa dari benua Eropa mencapai selat Malaka sehingga daerah ini bagi Portugis di anggap sebagai urat nadi bagi perdagangannya. Bisa dikatakan layaknya konstantinopel bagi Turki yang menghubungkan antara Eropa dan Asia. Waktu terus berjalan, danakhirnya pada tahun 1511 POrtugis berhasil menguasai Malaka.

Lihat Photo: Gambar Naik Haji Tempo DOELOE [Photo]

Ketika Malaka sudah dikuasai Portugis, disinilah dimulai babak baru bagi Nusantara. Ketika itu nusantara mulai terbangun kontak dan hubungan dengan dunia barat, dan bangsa barat pun mulai berdatangan ke Nusantara dengan berbagai alsan dan tujuan. Ada yang bertujuan untuk ekonomi, penyebaran agama dan hanya untuk perpetualangan.

Rempah-rempah yang ada di Nusantara adalah salah satu komoditi terbesar yang menjadi perhatian perdagangan portugis kala itu. Demi perdagangan rempah-rempah ini Portugis mendirikan benteng-bentengnya tak hanya di Malaka tetapi juga sampai ke pesisir pantai.

Baca Juga:  5 Hp Android Terbaik di Dunia

Pada waktu itu, faktor penyebaran agama belum begitu berperan dalam sejarah Nusantara, namun perseteruan antara pedagang Muslim di Persia dan laut India turut dirasakan hingga ke Malaka bahkan Nusantara. Pada awal abad 16 Portugis mengumumkan bahwa mereka adalah penguasa Samudra Hindia sehingga berbagai pelayaran muslim waktu itu di perang dan dikalahkan oleh portugis.

Selanjutnya, pada 1522 Portugis juga menguasai Ternate, ini menjadi langkah awal untuk menguasai perdagangan antara Cina, Jepang, Siam, Maluku di Samudra Hindia dan Eropa. Ketika dikuasainya Malaka, maka pedagang Muslim, pendakwah berbondong-bondong hijrah ke Sumatra, Borneo (Kalimantan), dan Jawa Maluku. Disinilah lahir 3 kekuatan politik Islam waktu Itu.

Kekuatan pertama lahir di Aceh. Sultan Ali Mughayat Syah waktu itu berhasil mengalahkan Portugis dalam peperangan yang terjadi di Pidie pada 1521 M. Kemudian beberapa tahun keudian kembali pecah perang di Pasai (1524) dan berhasil di ambil kembali Aceh Utara dari Portugis. Dengan kekuatannya Aceh terus berjuang hingga kemudian berhasil menguasai Malaka pada tahun 1529 hingga 1587.

Baca juga: Kota indah di dunia benua

Selanjutnya, kerjaan Aceh juga berhasil merebut Pahang pada tahun 1618 dan 1620, termasuk Kedah dan Perak.

Masa keemasan dan kejayaan kerajaan berada pada masa Sultan Iskandar Muda tahun 1607-1636.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here