SHARE
mengetahui sifat yang wajib pada Allah

Mengetahui yang Wajib pada Allah SWT – Syariat mewajibkan pada setiap orang yang telah mukallaf yaitu berakal dan baligh untuk mengenal dan mengetahui apa-apa saja yang wajib (tidak boleh tidak ada secara akal) pada Allah Swt. Begitu juga mengenal yang MUstahil (tidak boleh ada secara akal) pada Allah, dan sesuatu yang harus (boleh ada dan boleh tidak ada) pada Allah Swt.

Mengetahui yang wajib pada Allah Swt menjadi pondasi dasar yang membuat keimanan seseorang menjadi pasti atau tidak meragukan. Yang dituntut pada seseorang mukallaf adalah mengenal yang wajib, yang mustahil, yang harus pada Allah, begitu juga pada rasul dengan jalan ma’rifah bukan dengan jalan jazam. Karena makna ma’rifah adalah keyakinan yang terjadi dari dalil, maka tidak boleh seseorang mengenal sifat Allah hanya dengan jalan jazam adalah keyakinan yang sesuai dengan akidah iman namun tidak melalui dalil, berarti seseorang mukallaf tidak dibenarkan untuk taklid dalam ilmu tauhid, ia mesti mencari dalil yang membuatnya yakin bahwa Allah bersifat dengan yang wajib, mustahil dan yang harus, demikian juga pada kepribadian rusul.

Mengenal yang wajib pada Allah dan Rasul tidak bisa dengan jalan taklid tetapi harus dengan ma’rifah dalil. Ini adalah pendapat jumhur ahli ilmu, seperti syeikh abi hasan al-Asy’ari, Qadhi Abi Bakar Al-Bakilani, Imam Haramain. Para jumhur ulama ini berbeda pendapat tentang keadaan mukallid. Beberapa pendapat mereka adalah seperti dibawah ini.

  1. Mukallid adalah mukmin tetapi berdosa dengan sebab meninggalkan ma’rifah yang hasil dari nadhar yang sahih (berpikir mendalam).
  2. Sementara sebagian lain mengatakan bahwa mukallid adalah mukmin dan tidak berdosa, kecuali mereka yang mampu berpikir (nadhar shahih) dan tidak mau berpikir.
  3. Sebagian lainnya mengatakan bahwa mukallid adalah tidak dikatakan orang beriman sama sekali. Pendapat ini di ingkar atau dikritik oleh sebagian ulama lain yang tidak setuju.
Baca Juga:  Amalan, Doa Awal Tahun dan Akhir Tahun Islam/Hijriah

Tentang masalah nadhar (berpikir tentang sifat Allah), Ulama non jumhur berpendapat bahwa nadhar bukan syarat untuk sah iman, bahkan tidak wajib sama sekali. Mereka mnegatakan bahwa nadhar adalah syarat kamal iman, pendapat ini di pilih oleh syeikh ‘arif alwaly bin abi jamrah, Imam qusyairi, qadhi abu walid bin rasyid, Imam abu hamid al Ghazali, dan satu jamaah.

Pendapat yang benar adalah pendapat yang ditunjukkan oleh Kitab dan Sunna Nabi, yaitu wajib nadhar yang sahih, tetapi apakah nadhar menjadi syarat pada sah iman seseorang atau tidak, ini taraddud (ragu-ragu). Pendapat rajih (kuat) adalah nadhar adalah syarat pada sah Iman.

Jadi, mengetahui sifat yang wajib pada hak Allah swt, tidak boleh dengan jalan taqlid, melainkan dengan jalan ma’rifah. Ma’rifah ini didapat dengan cara nadhar yang sahih. Jadi yang pertama wajib dilakukan seseorang adalah berpikir atau bernadhar pada sifat Allah Swt, yang kemudian membuatnya menjadi ma’rifah Allah dengan jalan ma’rifah sifat yang wajib, yang mustahil, dan yang harus (jawaz) dengan dalil ‘aqli masing-masing.

Sumber: dusuki 'ala ummul barahina, hal. 55

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here