Home Agama Hukum Memperingati Maulid Nabi (Hari Kelahiran Nabi SAW)

Hukum Memperingati Maulid Nabi (Hari Kelahiran Nabi SAW)

507
0
SHARE
hukum memperingati maulid nabi

Hukum Memperingati Maulid Nabi – Sebelum kita lihat pendapat pada ulama tentang hukum memperingati maulid Nabi, kita lihat sekilas tentang sejarah perayaan maulid Nabi SAW. Di Indonesia peringatan maulid Nabi Saw telah dilakukan secara turun temurun sejak dahulu ketika Islam masuk Ke nusantara. Namun akhir-akhir ini muncul satu kelompok yang disebut Wahabi yang sering mengacaukan amaliah ummat Islam Nusantara. Mereka tanpa dasar dan pengetahuan mengatakan bahwa memperingati maulid Nabi SAW itu adalah bid’ah sayyiah dan sesat.

Tentang sejarah pertamakali memperingati maulid nabi Saw ada beberapa versi. Jalaluddin As-Suyuthi (1445 – 1505M atau 849 – 911 H) menyatakan bahwa yang pertama sekali merayakan hari kelahiran Nabi Saw adalah Malik Mudhaffar Abu Sa’id Kukburi (1153 – 1232 M atau 549 – 630 H).

Versi lain mengatakan bahwa perawayaan maulid Nabi (hari kelahiran Nabi SAW) pertama kali dilakukan oleh Shalahuddin Al Ayyubi (1138 – 1193 M) secara resmi. Ada juga yang mengatakan bahwa memperingati maulid Nabi Saw pertama kali dilakukan pada masa Daulah Fathimiyah di Mesir pada akhir abad keempat Hijriyah atau sekitar abada 12 Masehi.

Hukum Memperingati Maulid Nabi SAW

Para Ulama Ahlussunnah mengatakan bahwa Hukum memperingati maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi SAW adalah sunnah selama tidak ada hal hal yang melanggar syariat. Sunnah itu menurut As Suyuthi bisa saja terjadi karena jalur qiyas walau perbuatan itu tidak ada pada masa Rasulullah Saw.

Fatwa Jalaluddin as Suyuthi tentang hukum memperingati Maulid Nabi Saw adalah bid’ah hasanah atau mahmudah (hal yang dipujikan dalam agama), beliau mengatakan:

وبعــــد: فقد وقع السؤال عن عمل المولد النبوي في شهر ربيع الأول، ما حكمه من حيث الشرع؟ وهل هو محمود أو مذموم؟ وهل يثاب فاعله أو لا؟.

الجـــــواب:

عندي أن أصل عمل المولد الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي صلى الله عليه وسلم وما وقع في مولده من الآيات ثم يمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك هو من البدع الحسنة التي يثاب عليها صاحبها لما فيه من تعظيم قدر النبي صلى الله عليه وسلم وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف.

Arti kesimpulan: Merayakan Maulid Nabi atau hari kelahiran Rasulullah SAW. yang berupa berkumpulnya manusia dengan membaca ayat Quran dan sejarah Nabi dan memakan hidangan makanan termasuk dari bid’ah yang baik (hasanah) yang mendapat pahala karena bertujuan mengagungkan Nabi Muhammad dan menampakkan kegembiraan terhadap kelahiran Nabi SAW.

Baca Juga:  Mengetahui yang Wajib pada Allah SWT

Jadi segala hal yang dilakukan kalau sesuai dengan nilai-nilai quran dan sunnah adalah dianggap mahmudah dan beri fahala bagi yang mengerjakannya. Jadi sesuatu itu dikatakan sunnat tidak mesti yang ada pada masa nabi, tetapi bisa dilakukan karena qiyas.

Fatwa Said Ramadhan Al Buthi Tentang hukum Merayakan Maulid Nabi SAW. Beliau mengatakan bahwa tidak semua yang baru itu bid’ah. Jadi walaupun perayaan Maulid Nabi baru dilakukan pada masa tabi’in atau tabi’ tabi’in.

ليس كل جديد بدعة
البدعة، بمعناها الاصطلاحي الشرعي، ضلالة يجب الابتعاد عنها، وينبغي التحذير من الوقوع فيها. ما في ذلك ريب ولا خلاف. وأصل ذلك قول رسول الله صلى الله علية وسلم فيما اتفق علية الشيخان (من احدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهورد) وقوله فيما رواه مسلم : (إن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدى هدى محمد، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة).

ولكن ما هو المعنى المراد من كلمة (بدعة) هذه ؟
هل المراد بها معناها اللغوي الذي تعارف علية الناس فيكون المقصود بها إذن، كل جديد طارئ على حياة المسلم، مما لم يفعله رسول الله صلى الله علية وسلم ولا أحد من أصحابه، ولم يكن معروفا لديهم؟
إن الحياة ما تزال تتحول بأصحابها من حال ألي حال، وتنقلهم من طور إلى آخر

Artinya: Ditinjau dari pengertian istilah yang syar’i tidak semua yang baru itu bid’ah dhalalah (sesat) yang wajib dijauhi. Tidak ada keraguan dan perbedaan dalam soal ini. Asal dari masalah bid’ah ini adalah sabda Nabi riwayat Bukhari dan Muslim: Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan agama ini dengan sesuatu yang tidak berasal darinya, maka tertolak.” Dan sabda Nabi dalam sebuah hadits riwayat Muslim: “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad, sedangkan seburuk-buruk perkara adalah perkara baru yang dibuat-buat, dan setiap yang bidah itu adalah kesesatan.”

Baca Juga:  Astaghfirullah, Mereka Mengatakan Allah Bersemayam Di Atas Arasy

Namun yang dimaksud dengan kata bid’ah disini apa? Apakah yang dimaksud dengan bid’ah disini adalah secara lughawi (literal) yang umum diketahui manusia sehingga yang dimaksudkan adalah setiap hal yang baru pada kehidupan muslim yang tidak dilakukan Rasulullah dan para Sahabat tidak ada yang tahu? Sesungguhnya kehidupan senantiasa berubah dari waktu ke waktu dan berpindah dari masa ke masa yang lain …

Fatwa SAYYID MUHAMMAD ALWI AL-MALIKI tentang hukum memperingati Maulid Nabi SAW. Beliau adalah ulama besar Makkah yang non Wahabi, beliau bahkan menulis satu buku tentang dibolehkan memperingati maulid Nabi SAW. Berikut kutipan yang ada dalam kitabnya berjudul Haulal Ihtifal bi Dzikrul Maulidin Nabawi as-Syarif.

أننا نقول بجواز الاحتفال بالمولد النبوي الشريف والاجتماع لسماع سيرته والصلاة والسلام عليه وسماع المدائح التي تُقال في حقه ، وإطعام الطعام وإدخال السرور على قلوب الأمة

Artinya: Saya berpendapat atas bolehnya merayakan maulid Nabi dan berkumpul untuk mendengar sejarah Nabi, membaca shalawat dan salam untuk Nabi, mendengarkan puji-pujian yang diucapan untuk beliau, memberi makan (pada yang hadir) dan menyenangkan hati umat.

Kami hanya menerbitkan beberapa pendapat ulama Ahlussunnah wal Jamaah tentang hukum boleh bahkan sunnat memperingati maulid Nabi Saw dan seluruh pendapat ulama Ahlussunnah membolehkan perayaan hari kelahiran Nabi SAW.

Jadi, Pendapat yang kini terdengar dan sering dikalangan masyarakat yang mengatakan tidak boleh maulid dll adalah pendapat Wahabi yang sesat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here