SHARE
bahaya dibalik slogan kembali kepada alquran dan hadist

Bahaya Dibalik Slogan “Kembali Kepad Al-Quran dan Hadist”. Ini adalah hal menarik untuk di kaji dan dipahami terutama oleh masyarakat awam agar tidak terpeleset dan masuk dalam jurang kesesatan. Akhir zaman ini banyak orang yang memandang dirinya mujtahid sehingga dengan seenaknya saja dia menafsirkan al-Quran sesuai dengan akalnya sendiri, padahal menafsirkan al-Quran seenaknya saja sangat berbahaya. Rasulullah SAW. sendiri bersabda bahwa siapa saja yang menafsirkan al-quran dengan pikiran maka tempatnya di neraka.

Keberanian sebagian kelompok dalam menafsirkan Al-Quran dan hadis sebagaimana nafsunya telah melahirkan sikap ekstrim dan radikal terhadap orang bermazhab bahkan dengan mudah menstempel pengikut mazhab sebagai orang sesat karena mengikuti pendapat ulama bukan mengikuti al-quran dan hadist. Maka akhir-akhir ini sering muncul slogan dan spanduk bertuliskan “kembali kepada Al-Quran dan Hadist”, padahal mereka yang berslogan seperti itulah yang tidak mengikuti al-Quran dan Hadist. Mau Tahu apa sebabnya, baca artikel dibawah ini yang kami kutip dari sufimuda.

Bahaya di Balik Slogan ‘Kembali kepada Al-Quran dan Hadist’

Anda mungkin sering mendengar kata-kata seperti judul di atas, anda di nasehati untuk kembali ke Al-Qur’an dan Hadist. Sekilas nasehat tersebut baik, tentu saja baik karena kita dianjurkan untuk menjadikan al-qur’an dan sunnah sebagai pedoman hidup, tapi kalau direnung lebih dalam kita juga wajib bertanya, apakah semua orang diberi kebebasan untuk menafsirkan al-Qur’an? Kalau anda ada persoalan kemudian buka al-Qur’an dan Hadist kemudian memahami sendiri? Lalu dimana anda mau letakkan pendapat para ulama yang telah menyusun tafsir dan penjelasan lengkap selama 1400 tahun?

Ciri khas aliran yang muncul 100 tahun lalu di tanah arab tidak lain menjauhkan ummat dengan Ulama dengan berbagai cara, mulai dengan menghancurkan kuburan ulama dengan dalih syirik, melarang menghormati ulama dengan alasan dalam ajaran Islam dilarang mengkultuskan manusia, termasuk slogan di atas, “Kembali ke al-Qur’an dan Hadist” dengan slogan itu ummat tidak lagi perlu bertanya ke ulama, setiap manusia diberi kedudukan yang sama di hadapan Allah termasuk dalam menafsirkan al-Qur’an.

Baca Juga:  Biografi Syaikh Ali Jum'ah, Ulama Al-Azhar

Slogan ini kemudian melahirkan orang-orang yang “sok tahu” tentang al-qur’an, kemudian dengan mudah menvonis orang dengan ayat-ayat yang dipahami dengan keterbatasan ilmunya. Saya sendiri sudah kenyang melihat jenis ulama gadungan, baru rajin shalat 3 bulan dan membaca al-Qur’an terjemahan, kemudian dengan mudah mengeluarkan “fatwa”, yang ini sesat, ini bid’ah, ini tidak sesuai al-Qur’an dan Hadist dst.

Lahirnya orang-orang yang dangkal memahami agama ini memang dirancang oleh kelompok tertentu, saya tidak berani menuduh mereka Yahudi atau orientalis, anda bisa menyebut mereka dengan sebutan yang anda sukai, dengan tujuan agar ummat ini mudah di ombang ambing seperti buih di lautan. Terputusnya ummat dengan Ulama Pewaris Nabi akan mudah bagi mereka kemudian menyodorkan ulama versi mereka, andai pun memahami al-Qur’an hanya sebatas tekstual, yang tertulis semata.

Selama 100 tahun ummat Islam telah berhasil di perdaya, coba anda lihat hasilnya, ayat-ayat tentang jihad dimaknai apa adanya, maka lahirnya al-Qaida, kemudian ISIS dan lain-lain, diantara sesama muslim jadi saling mencurigai, ini hasil unggul produk “Kembali ke al-Qur’an dan Hadist” yang di dengungkan 100 tahun lalu, slogan yang tidak pernah ada sebelumnya.

Tulisan ini tolong dipahami dengan kepala dingin, saya tidak sedang mengkritik al-Qur’an dan Sunnah dan tidak pula melarang orang berpedoman kepada keduanya, yang saya kritik adalah cara orang memahami keduanya, memahami tanpa dengan bimbingan. Menafsirkan al-Qur’an dengan akal pikiran akan membuat manusia tersesat, Nabi memberikan nasehat:

“Barang siapa yang menafsirkan al-Qur’an menurut pendapatnya sendiri, hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya dari api neraka” (HR. Muslim)

Dari awal Nabi sudah khawatir akan muncul suatu generasi yang dengan sekehendak hatinya menafsirkan ayat al-Qur’an. Siapa yang paling paham dengan firman Allah? Tentu saja Nabi dan siapa orang paling paham dengan Nabi? Tentu sahabat, dan siapa yang paling paham dengan sahabat? Tentu saja orang yang pernah hidup dengan sahabat Nabi, hubungan berantai itu yang menyebabkan Islam lestari hingga hari ini.

Paham yang di usung 100 tahun lalu tersebut kemudian menafikan mazhab, dengan alasan karena mazhab ummat ini terpecah, kemudian dengan alasan ini pula slogan “Kembali ke al-Qur’an dan Sunnah” terasa sangat masuk akal, akhirnya seluruh orang dengan gaya masing-masing menartikan al-Qur’an menurut akal pikirannya, hasilnya TERSESAT!.

Baca Juga:  Fitur Terbaru Android di Android 5.1 Lollipop

Pemikiran paham yang muncul 100 tahun lalu tersebut memang rancu, satu sisi anda di suruh mengikuti al-Qur’an dan Sunnah, mengikuti ulama salaf, tapi sisi lain anda dilarang mengikuti mazhab, bukankah Imam Mazhab tersebut termasuk ulama salaf?

Imam Mazhab menurut saya ibarat ahli masak, Koki terkenal yang mempunyai resep masak, kemudian resep itu diwariskan dan dipakai sekian lama dan terbukti memang sangat enak. Ibarat masak kambing, ada berbagai jenis seperti: kari, rendang, sop dan sate, ke empat jenis ini mempunyai keungulan dan kelemahan masing-masing, silahkan anda mengikuti menurut kebutuhan masing-masing. Bagi sebagian orang kari kambing adalah makanan yang sangat cocok untuk mereka, bahan-bahan pendukung seperti kelapa dan rempah-rempah kebetulan banyak di daerahnya, sebagian yang tinggal didaerah tanpa buah kelapa, sate atau sop adalah pilihan paling bagus. Semua jenis masakan berdasarkan resep warisan koki terkenal tersebut sangat baik, karena telah diteliti oleh mereka.

Kemudian muncul satu golongan (100 tahun lalu) yang menolak bahkan membuang resep-resep bagus ahli masak yang telah terbukti selama 1000 tahun ampuh dan hebat, mereka membuang semua resep, bagi mereka gara-gara resep masakan kita jadi tidak kompak, semua orang harus kembali ke alamiah, tidak perlu bumbu-bumbu, itu semua bid’ah. Akhirnya orang disuruh makan daging mentah, hasilnya: hambar dan sakit perut!

Cara terbaik agar kita selalu mendapat bimbingan dari Allah adalah berguru kepada orang yang mempunyai hubungan baik dan dekat dengan Allah, orang-orang yang memahami firman Allah dengan hati yang disinari oleh cahaya-Nya. Menutup tulisan ini saya kutip firman Allah dalam surat an-Nahl 43 :

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ…

“…Bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu (Ulama) jika kamu tidak mengetahui” [An Nahl 43]

5 COMMENTS

  1. Tapi bukannya setiap manusia memang punya kedudukan yg sama disisi allah tanpa membedakan harta pangkat dan jabatan? Gimana sih?

  2. @Gegr
    Manusia semua disisi Allah kecuali yang membedakan adalah taqwanya. Pejabat, orang kaya, miskin, sama sama mulia kalau dia taqwa. Kalau dia tidak taqwa maka posisinya di hadapan Allah juga sama, yaitu tidak di sukai Allah.

    Tingkat ketaqwaan juga bisa membuat derajat seseorang di sisi Allah berbeda beda, yang paling baik taqwanya dialah yang paling disukai Allah.

    Orang bodoh dan orang berilmu apakah sama? tidak sma sekali, karena Orang bodoh agama adalah musuh Allah, kenapa? karena Allah telah memerintahkan hambanya untuk mencari ilmu agama agar bisa memahami tata cara beribadah.

    Al quran adalah kitab yang berisi semua petunjuk baik masalah hubungan dengan makhluk atau dengan khaliq. Tata cara beribadah ada dalam alquran dan al quran hanya bisa dipahami oleh oprang yang berilmu. Kalau kita tidak bisa memahaminya, maka kewajiban bagi kita untuk mengikuti mereka yang telah tahu cara memahami al quran (yang mampu memahami alquran adalah imam mujtahid)

    Karena alquran tidak boleh di tafsirkan se enaknya saja, punya aturan dan tata cara dan membutuhkan serangkaian ilmu alat dalam memahami kekentalannya maka banyak orang tersesat ketika memahaminya tanpa ilmu, atau hanya dengan memahami lewat terjemahnnya saja. Maka orang yang langsung kembali kepada alquran dan hadist tanpa mengikuti mujtahid maka dipastikan ia salah dan sesat.

    Jadi, bermazhab itu penting untuk menyatukan pendapat atau mengikuti pendapat ulama yang merupakan warasatul ambiya. Orang yang tidak bermazhab berarti mengukuti akal dan hawa nafsunya semata, maka ia dikatakan sesat.

  3. Tak kenal maka tak sayang, Malu bertanya sesat di jalan.
    Perumpaan itu sangatlah tepat ketika menuntut ilmu, termasuk mempelajari al qur’an dan hadist.
    Kita harus pintar-pintar menyaring berita karena tidak semua informasi benar.
    Maka bacalah dan maknai arti yang terkandung dalam al qur’an.
    Jika kita malu bertanya kemudian menafsirkan ayat al quran maupun hadist sendiri maka kita akan termasuk golongan orang yang salah jalan.
    Kebanyakan orang yang baru belajar tentang agama, ketika sudah mengenal 1 ayat dan 1 hadist alquran sudah berani menyalahkan orang lain.

  4. Sepakat banget min. Meskipun kita tetep harus merujuk kepada quran dan sunnah, tapi harus dengan pemahaman yang benar. Pemahaman yang benar itu gimana? Ya sesuai dengan pemahaman ulama yang sudah berkelana menuntut ilmu kemana-mana, bahkan ada yang sampai di penjara.

    Mantap dah!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here